Monday, September 25, 2006

Tak Terbaca

Saat pergi dan kembali adalah niscaya
Dan kita tak sadar telah mengukir gores pada masing-masing jiwa
Kita terdiam dan menangis
Aku termangu menyilet kaca-kaca yang berkilau di lorong imaji yang tercipta oleh kerinduan bulan pada sinar raja siang
Tak usah mengerti keran sejak awal kita telah sama-sama berpaling

Entahlah.

Mungkin dari sudut hati masing-masing
Di sana sekali lagi kita menangis,
Saling mengusap wajah-wajah sembap dan saling pahami bahwa mungkin hanya ini yang kita bisa.

Terima kasih.

Untuk siang saat kita merasa punya satu belahan jiwa
Untuk malam saat tanpa kita tahu, ku sebut namamu dan kau sebut namaku dalam doa.
Untuk masa yang tak mungkin terulang dan tak lagi terbaca
Namun kita masih punya kenangan
Tak usah mengerti karena mungkin memang tak terbaca pada sudut-sudut jiwa

Yah...

Kita telah lama tahu untuk apa kita tercipta.



Untuk semua akhwat IKRAMAL, terima kasih sudah menangis dan tertawa bersama.
Ukhti, uhibbu ki fillah...
(19/8/06...01:34)


Jenius’03
Tambatan Hati dan Pergulatan dengan Kata

Seorang anak kecil berusia 6 tahun sibuk menyermati tiap komik yang berjejer di hadapannya, saat itu, gramedia di makasa belum terbakar, dan tiap bulan, memang itulah yang ia rindukan. Menuju toko buku itu untuk segera membawa pulang sebuah komik yang akan ia lahap di rumah. Lalu ia jatuh cinta pada tokoh-tokoh tak nyata dalam cerita itu, berimajinasi tentang asyiknya menjadi Sailor Moon atau berkhayal bisa ikut menumpas kejahatan dengan Topeng Tuxedo. Perasaan sukanya ia tuangkan lewat gambar-gambar lucu yang ia adaptasi dari tokoh-tokoh itu. Berlanjut dengan imajinasinya tentang tokoh yang ia ciptakan sendiri, hingga tanpa ia sadari, berjilid-jilid ’komik-komikan’ ia ciptakan dengan asyik.
Lalu dunia cerpen menyapanya, ia merasa semakin mudah mengekspresikan diri dengan kata-kata, terlebih saat ia mulai berkenalan dengan sajak-sajak, maka jadilah ia seperti sekarang. Kecanduan dengan kata-kata....!!!

Hmm.., tulisan di atas saya kira cukup untuk menjadi prolog ! Yah.., anak kecil di atas tak lain dan tak bukan memang adalah saya sendiri. Saya memang baru sadar harus banyak berterima kasih pada Naoko Takeuchi (Komikus yang ’melahirkan’ SailorMoon) karena atas hobby membaca komik-komiknya-lah saya jadi senang berimajinasi, tak berlebihan saya kira kalau saya katakan karena itulah saya jadi senang menulis (bukankah untuk menulis kita kudu seneng membaca???).

Nah..., pas masuk SMA, saya serasa ketiban duren runtuh ! Ternyata saya bisa menemukan komunitas yang bisa menjadi obat buat penyakit ’gila nulis’ saya itu. Organisasi itu bernama Jenius’03. Awalnya saya tak pernah menduga bakal begitu punya keterikatan batin yang teramat sangat dengan organisasi ini (ceilee...). Tapi ternyata memang demikianlah adanya. Karena cukup mendapat kepercayaan menjadi pengurus inti waktu masih kelas satu (saat itu saya jadi wakil sekretaris dan satu-satunya pengurus inti yang kelas 1, yang laen kelas 2 semua...), trus berlanjut menyandang predikat Redaktur Pelaksana (sama anak2 sering disingkat jadi RePe...) pas kepengurusan selanjutnya, saya jadi begitu cinta dengan organisasi ini, apalagi pas ngerasa bahwa dari Jenius-lah saya dapat banyaaaaak pengalaman, lomba-lomba(yang alhamdulillah menang...), diklat-diklat, bengkel sastra, dan lain-lain!!! Pokoknya serasa menemukan tambatan hati deh...

Makanya pas harus melepas jabatan di 19/9/06 kemarin (tepat 1 tahun 15 hari menjabar jadi RePe), rasanya beraaaaat sekali ! Membayangkan tidak ada rapat2 lagi, tidak ada edit buletin lagi, tak ada kerja mading lagi..., waaah..., makanya web-blog ini jadi ’pelarian’ setelah Jenius tak bisa lagi jadi media penyalur tulisan!!! Sedihnya...

Tapi, terlepas dari itu semua, selalu ada harapan buat Jenius supaya bisa terus eksis dan lebih baik lagi. Seandainya ada Jenius Crew yang baca tulisan ini, pesan saya, terus semangat, terus goreskan pena dan pertajam kata-kata ...., mumpung waktu masih ada ! Yah?!


(Buat semua Pengurus Jenius 2004/2005 and 2005/2006, miss u all...!!!)
(Makassar, 22/9/06…22:17)

Bukan Langit Yang Biru

Taukah kau bahwa bukan langit yang sebenarnya biru ?
Ia hanya memantulkan guratan-guratan lemah siapa-siapa yang terlampau letih memaknai hidup
Ia hanya memperlihatkan warna-warna alam yang seharusnya dapat tersenyum namun kita telah memaksanya bergelut dengan waktu, menikmati sisa umur yang terus berlalu
Bukan langit yang biru,
Ia hanya sedang bercerita betapa hari terlampau berarti untuk kau lewati tanpa sesungging senyum


(Diantara kerinduan pada Ramadhan yang akan segera datang...)
(23/09/06...17.45)

Aku datang bersama awan
Jika cinta berwarna merah,
maka kupilihkan yang terindah
Bila hadirnya harap hanya semburat duka,
Percayalah !
Aku adalah sekejap pergi
Untuk hadir yang tak singkat
Karena aku datang bersama awan,
Bukan untuk kembali menghilang dan sekedar ucapkan salam.

(Sajak ini khusus buat Chessy, dari Sakti...
dicomot dari epilog Especiallily)

(19/01/06)

Gadis itu datang membawa matahari,
sekotak pelangi.
Sinarnya buatku lupa cara mengantongi tangis
Dan berlalu dengan berjuta lembar asa.
Gadis itu datang membawa matahari,
sekuntum malam.
Hadirkan sayap-sayap alam yang menderit di bianglala
Sungguh...
Aku terlalu ingin meletakkan bintang di atas matanya.
Hingga malam menghitam dan kutahu semua berakhir segera.

(Puisi ini ada dalam Especiallily, dari Iklil, buat Lily, dengan cinta!!!)
(19/01/06)

Rahasia

Dia telah cukup lama mengangguk,
meyakinkan setiap cerahnya lewat sesuatu yang tersaput kabut
Samar-samar...
Tapi kemudian menjadi bayang yang nyata dan tampak terang
Kemudian dia menari-nari dalam setiap lagu-lagu sumbang yang terdengar
Mengatakan bahwa ungu adalah biru yang kemerah-merahan
Dan menunjuk langit senja sebagai merah yang kekuningan
Dia berbicara lewat mata
Seharusnya ini bukan lagi tangis saat nampak jelas segala yang tak indah
Dia muncul dari kerutan-kerutan
Dan buramnyapun karena kerutan
Saat kau tersadar
Seharusnya selama ini kau menatap yang ada sebagai yang benar-benar di sana.

(29/9/06...21:57)

Sajak Ini

ditulis saat sepenggal matahari merona di kaki langit
baurkan sepercik merah dan rindu
pada yang telah pergi
saat ceracau tak lagi menceracau pada hati
dan saat setiapnya tetap bertahan berdiri di sini
berdiri melukis langit dan lazuardi

(2/8/06)

Jangan Percaya

Jangan terlalu percaya pada cinta
Karena sinar-sinar dari langit telah membentuk selengkung warna
Warna merah muda itu, jangan percaya
Ia terlalu pucat dan kabur saat kau mengoleskannya pada senja
Jangan percaya pada mata dan sebentuk alis yang menaunginya
Terkadang ia memang bukan lagi jendela jiwa.

(22/8/06...20:39)

Saturday, July 01, 2006

Selembar Kertas di Atas Meja

Malam itu, selembar kertas di atas meja berkata :
"Tuliskan tentang apa saja.."
Maka kuceritakan :
" seandainya kita bisa bersedih tanpa membuat yang lain merasa
seandainya kita bisa bersedih tanpa membuat yang lain mengira
seandainya kita bisa bersedih tanpa membuat yang lain mengerti
seandainya kita bisa bersedih tanpa membuat yang lain sadari"
Selebar kertas di atas meja lalu berkata :
" Jangan tuliskan apapun juga.."
Akupun membalas,
" Seandainya kita bisa bersedih tanpa harus memendamnya."

(22/5/2006 ...23:35)

Sunday, May 07, 2006

Senja mungkin tak akan lagi jingga
Saat banyak mata yang menatap dengan duka
Dan kita masih saja berada diantaranya
Jangan lagi bicarakan tentang cinta
Karena ia telah begitu lama niscaya dalam setiap hati manusia
Karena ia, telah begitu bosan kembali dijamah


Besok hari yang paling menegangkan.
Bisa dibilang begitu
Tapi sungguh,
Kami hanya ingin membuat dia
menyesal
telah berani
menantang .
Ini hanya sekedar catatan ringan
Betapa hari ini yang kubutuh hanya doa banyak orang.

Tuesday, March 21, 2006

Mengapa harus ada hujan ?


Bertanya langit kepada awan.
Sedikit saja,
Kupilih untuk membuka lagi kotak kaca itu
Lalu mengambil berpotong malam
Membuangnya agar tak ada lagu gelap
Karena aku tiba-tiba lupa cara mengantongi tangis
Saat setangkai purnama memandang satu satu.

Thursday, February 23, 2006

Tidak Tau.
Tapi hari ini mungkin menjadi lain
Apalagi saat awan benar-benar menjadi nyata bergelantung di atas alisnya
Awan kelam yang katanya tak akan lagi ia sembunyikan.
Tapi mengapa,
Sebab sedih yang menjadi niiscaya padanya
Membuat aku bingung
Karena tangis tak pernah menjuntai di atas bulu matanya,
Semoga tidak

Saturday, December 03, 2005

Di Batas Masa
Termangu menatap kerlingan bulan yang makin memudar. Saat ku tau, Gunung Uhud mencintaiku dan aku mencintainya. Di batas masa yang makin membara. Ku ingat akan berakhir dengan talu takbir, namun akankah terdengar kembali...?
Di batas masa bersama senja yang sepi. Yang dikatakan lidah yang bisu satu harapku. Bahwa TauhidMu rahmat bagi seluruh alam. Hingga tiba di batas masa. Akankah ini berakhir dengan indah ? Atau tetap terbata tanpa perbaikan. Saat panggilan itu tak terjawab. Di batas masa, aku masih termangu menatap kerlingan bulan yang makin memudar.


“ Di batas masa : Mungkin tersia-siakan..”
Makassar, 11 November 2004/28 Ramadhan 1425 H

Dari Matamu

Melihat bulir itu dari matamu, sahabat... Buat kepingan itu kembali mundur. Pada jarum saat aku tak mampu tersedu. Tapi kau bisa. Buatku hanya mempu menerawang. Aku yang hanya mampu mengenang. Betapa setiap langkahmu buatku memerah. Lalu padam. Saat kau punya permata itu, aku tidak ! Lalu kau kembali terisak dan mataharipun padam. Kau meungkin akan mendayu, menipis dan mengkerut dengan lambaian tangan itu. Sedang aku terus berputar dengan baling-baling yang kusam. Kau tersentuh, dan aku tertampar. Tak kudapat jarum sepertimu. Aku, hanya dapat memandang dari jauh...

“ For my bestfriend, dont cry again...”
Makassar, 7 Agustus 2004

Gelapnya Cahaya

Saat aku merasa mampu berubah, ternyata semuanya telah menjadi basi. Tak ada pilihan lain selain tetap menjadi patung. Tetap diam di sini walau mampu berjalan ke sana. Dan saat awan itu datang, hanya mampu berharap pada daun pisang. Saat mereka mampu bersinar, aku hanya punya cahaya remang. Sebenarnya aku mampu...! Namun, cap hitam itu sudah menempel di pipi. Dan ini sangat terasa, walau tak begitu pahit, namun bukankah tuba tak mungkin menjadi gula ?

“Lihat cahaya di balik temaramku...”
Makassar, 24 Januari 2004

Merangkul Awan Bersama Kunang-kunang

Lewati titian pelangi denganmu, kawan ! Kuukur dalamnya cinta yang mengendap dengan asa. Saat tiba lambaian tangan, hingga harus satu dalam tingkatan yang lebih. Jalani setapak ini dengan desah napas yang hampa. Coba lagi ulangi musik klasik itu, yang mengalun bersama denting dan gemercik.
Sebuah pencapaian dariku yang selalu tatap langit. Belajar dari dengung lebah hutan. Dari wangi angin tiupan dan desis daun pohon pinus di sana. Walau bulir-bulir yang mengalir, tertuang oleh pena dan kertas. Dengan lekukan yang bersama gemerlap cahaya bintang. Dengan mega, bersama kunang-kunang.

Makassar, 9 Mei 2004